PINGUIN

Widget Animasi

Rabu, 29 Januari 2020

UNSUR UNSUR SENI MUSIK

Unsur-Unsur Seni Musik

Pengertian Seni Musik
Seni musik dapat terdengar indah karena didalamnya terdapat unsur-unsur musik yang digabungkan. Selain itu, dengan adanya unsur musik tersebut membuat seni musik dapat dinikmati oleh para pendengar dan penciptanya.
Gabungan dari unsur-unsur musik yang ditata dengan sedemikian rupa dapat menghasilkan sebuah karya yang luar biasa. Unsur-unsur yang tergabung dalam seni musik antara lain

1. Melodi

Pengertian melodi adalah gabungan dari sejumlah nada atau bunyi, yang dipilih berdasarkan perbedaan tinggi rendah dan naik turunnya. Melodi tersebut terdiri dari tone, durasi dan pitch. Pengertian dari tone adalah not dapat dihasilkan dari berbagai macam alat musik dengan warna suara yang berbeda-beda.
Durasi adalah serangkaian not-not yang digabungkan menjadi melodi dalam waktu tertentu. Sedangkan untuk pitch adalah sesuatu yang mengatur not-not dan diberi lambang alfabet yaitu A-G. Perlu diketahui bahwa pitch juga sering disebut sebagai timbre atau warna suara.

2. Ritme (Irama)

Pengertian dari ritme atau irama adalah sebuah gerakan yang teratur karena adanya aksen secara tetap. Ritme atau irama akan menjadi lebih indah karena adanya gabungan perbedaan nilai pada satuan bunyi. Bisa dikatakan bahwa ritme merupakan ketukan dasar yang mengalir secara teratur mengikuti gerak dari melodi yang bervariasi.
Untuk dapat merasakan ritme pada sebuah lagu, dengarkanlah sebuah lagu secara berulang-ulang.  Pola irama musik adalah penggerak sebuah perasaan yang sangat berhubungan dengan gerakan fisik. Ritme ini sendiri dapat melekat erat di benak seseorang jika sering dilatih secara teratur.

3. Birama

Pengertian Birama adalah unsur seni musik berupa ketukan atau ayunan yang dilakukan secara berulang-ulang yang dilakukan secara teratur dalam waktu yang sama. Birama sendiri biasanya ditulis dalam bentuk angka pecahan seperti 2/4, 3/4, 2/3 dan seterusnya.
Angka pembilang yang terletak di atas garis miring (/) menunjukan jumlah ketukan, sedangkan angka penyebut yang terletak dibawah garis miring (/) menunjukan nilai sebuah nada dalam satu ketukan.
Untuk birama yang mempunyai angka penyebut genap dinamakan birama bainar, sedangkan untuk birama yang mempunyai angka penyebut ganjil dinamakan birama ternair.
Dalam seni musik terdapat 2 jenis birama yaitu birama perduaan dan birama pertigaan. Untuk birama perduaan bersahaja yaitu birama 2/4 dan 2/8, sedangkan untuk birama perduaan bertingkat yaitu birama 4/4, 8/4, 4/8 dan 8/8.
Untuk jenis birama pertigaan bersahaja yaitu birama 3/4 dan 3/8 sedangkan untuk birama pertigaan bertingkat yaitu birama 6/4, 6/8, 9/4 dan 9/8.

4. Harmoni

Pengertian harmoni adalah sesuatu hal yang berhubungan dengan keselarasan bunyi. Harmoni meliputi peranan, susunan dan hubungan dari perpaduan bunyi dalam bentuk secara keseluruhan. Selain itu harmoni juga mempunyai elemen-elemen yaitu interval dan akor.
Interval merupakan susunan antara nada-nada yang ketika dibunyikan secara serentak akan terdengar sangat harmonis. Sedangkan akor akan mengiringi melodi sebuah lagu sebagai satu kegiatan dan nantinya lagu tersebut akan enak untuk didengar.

5. Tempo

Pengertian dari tempo adalah sesuatu hal yang berhubungan dengan cepat lambatnya musik atau lagu. Tempo juga dapat diartikan sebagai ukuran kecepatan birama pada sebuah lagu. Jika permainan suatu lagu tersebut semakin cepat, maka nilai tempo pada lagu tersebut juga semakin besar.
Tempo sendiri terbagi menjadi 4 jenis yaitu tempo lambat (largo, adagio, lento, grave), tempo sedang (andante, andantino, allegro moderato, moderato), tempo perubahan (rit, rittad, accel, string), tempo cepat (allegro, presto, vivace, allegreto)

6. Tangga Nada

Unsur seni musik yang satu ini memiliki pengertian yaitu urutan atau sederetan nada-nada yang tersusun secara berjenjang dan diantara nada satu dengan nada yang lain tedapat sebuah jarak tertentu.
Jarak pada nada-nada tersebut sangat bervariasi yakni ada yang berjarak 1/2, 1, 1 1/2 dan 2. Nantinya jarak-jarak inilah yang akan menentukan variasi nada dan tangga nada.

7. Timbre

Pengertian dari timbre adalah kwalitas bunyi atau warna bunyi yang nantinya akan memberi sebuah kesan. Timbre pada sebuah alat musik dipengaruhi oleh sumber bunyi dan cara bergetarnya bunyi tersebut.
Perlu diketahui bahwa timbre yang dihasilkan oleh alat musik tiup akan berbeda dengan timbre yang dihasilkan oleh alat musik petik. Meskipun kedua alat musik tersebut memainkan nada yang sama.
Itu tadi merupakan penjelasan mengenai pengertian seni musik secara umum, pengertian seni musik menurut para ahli dan unsur-unsur seni musik.
Seni musik memiliki banyak manfaat untuk masyarakat yakni untuk hiburan, untuk menambah semangat saat beraktivitas, sebagai sarana pengexpresian diri, sebagai iringan sebuah tarian dan sebagai sara pendidikan.

PENGERTIAN SENI MUSIK

Pengertian Seni Musik Menurut Para Ahli

Pengertian Seni Musik
Secara umum pengertian seni musik adalah sebuah cabang seni yang didalamnya terdapat melodi, tempo, irama, harmoni dan vocal yang berperan penting sebagai sarana untuk menggambarkan perasaan pencipta.
Akan tetapi para ahli yang juga dapat disebut sebagai seorang seniman musik mempunyai pengertian tersendiri mengenai seni musik. Berikut adalah pengertian dari seni musik menurut para ahli

1. David Ewen

Menurut David Ewen seni musik adalah sebuah ilmu pengetahuan tentang pengkombinasian antara ritmik dan beberapa nada. Bentuk instrumen dan vokal dapat mencakup sebuah melodi dan harmoni . Hal tersebut merupakan bentuk ekspresi dari segala sesuatu hal yang ingin diungkapkan dari segi emosional.

2. Jamalus

Pengertian seni musik menurut Jamalus adalah sesuatu hal yang dapat menghasilkan sebuah karya seni berupa bunyi. Dari bunyi tersebut dapat dibentuk menjadi sebuah lagu atau sebuah komposisi yang menunjukan pikiran serta perasaan si pencipta.
Hasil karya tersebut terjadi melalui unsur-unsur seni seperti irama, melodi, harmoni, susunan lagu dan ekspresi sebagai satu kesatuan.

3. Sylado

Menurut Sylado seni musik adalah sesuatu wujud yang terbentuk dari sekumpulan ilusi dan lantunan suara. Untuk lebih jelasnya Sylado menjelaskan bahwa sebuah alunan musik beserta nada yang mempunyai jiwa dapat menggerakkan bahkan menggetarkan hati si pendengar dan si pencipta.

4. Lexicographer

Seni musik menurut Lexicographer adalah sebuah ilmu dan seni yang dipadupadankan dengan unsur ritmis dan nada. Selain itu seni tersebut juga dipadukan dengan vokal atau sebuah instrumen yang melibatkan harmoni dan melodi. Seni musik bertujuan untuk mengungkapkan segala hal, lebih khususnya sesuatu yang mempunyai sifat emosional.

5. Suhartjarja

Menurut pandangan dari Suhartjarja, pengertian seni musik adalah sebuah ungkapan rasa yang indah dari manusia dalam sebuah konsep pemikiran yang kompleks.
Pemikiran tersebut merupakan bentuk dari nada maupun suara yang mengandung harmoni dan ritme. Selain itu pemikiran tersebut mempunyai bentuk ruang dan waktu yang dikenal oleh diri manusia dalam lingkungan hidupnya sehingga dapat dinikmati.

PROSES PEMENTASAN SENI TEATER

PROSES PEMENTASAN

Sekalipun telah memiliki kemampuan bermain teater berkat pelatihan yang diberikan oleh seorang instruktur (pendamping), tetapi dalam sebuah pementasan teater mereka tidak bisa bekerja sendiri. Mereka harus didampingi seorang sutradara. Sutradara adalah orang yang membantu melatih pemain, mengarahkan permainan, membimbing dan sumber inspirasi dalam pertunjukan. Sutradara harus menguasai permainan dan artistik. Kecakapan seorang sutradara akan menentukan sebuah pertunjukan.

Tahap proses pementasan mencakup persiapan pementasan. Dalam hal ini seorang instruktur (pendamping) dan para pemain harus memahami serta  menghafal baris-baris kalimat dialognya sehingga cerita bisa berjalan secara menyeluruh. Dalam proses pementasan ini mulai dibentuk pula kepanitiaan pentas. Selanjutnya tahap proses pementasan seperti di bawah ini.

Kepanitiaan Pentas
Kepanitiaan dibentuk untuk mengatur penyelenggaraan pementasan. Pementasan di sini tidak haru dilakukan di panggung tetapi bisa juga di selenggarakan di dalam kelas dengan penonton teman-teman sekolah sendiri. Tugas panitia adalah mengatur jalannya pementasan mulai dari penonton datang sampai pertunjukan selesai di mana ada yang bertindak sebagai penerima tamu, pengatur penonton, pembawa acara, pembantu rias dan busana, dekorasi, dan lain sebagainya.

Gladi Bersih
Gladi bersih adalah latihan keseluruhan dan lengkap sebagai model dari pentas yang sesungguhnya di mana kerja panitia juga sudah dimulai. Namun sebelum gladi bersih, latihan secara menyeluruh dari awal hingga akhir cerita sudah sering pula dilakukan sehingga pemain benar-benar siap.

Pentas
Pementasan dapat diselenggarakan di mana saja dengan ketersediaan sarana dan prasaran yang ada, tidak harus di gedung pertunjukan. Inti dari penyelenggaraan pentas adalah unjuk kerja para pemain dan kepanitaan serta kerjasama di antara mereka.

Evaluasi
Evaluasi dilakukan untuk memberikan penilaian atas pentas yang telah dilakukan. Evaluasi lebih bersikap refleksi sehingga semua yang terlibat menyadari kekurangan dan mau memperbaikinya untuk kegiatan yang akan datang.
  1. Nilai karakter yang dapat diintegrasikan dalam proses pementasan:
  2. Disiplin dalam hal ketepatan waktu latihan dan menjalankan prosedur latihan
  3. Kerjasama dengan peserta yang lain baik dari tim panitia maupun tim pemain
  4. Percaya diri dalam memainkan peran dan melaksanakan tugas kepanitiaan
  5. Kreatif dalam mengembangkan permainan dan melaksanakn tugas kepanitiaan

 pentas
Kerja keras dalam melakukan latihan untuk mencapai hasil yang dinginkan Komunikatif dalam arti mampu menjalin komunikasi dengan seluruh rekan kerja produksi pementasan untuk mencapai hasil yang maksimal.

FUNGSI SENI TEATER

FUNGSI SENI TEATER

  1. Teater sebagai Sarana Upacara
Pada awal munculnya, teater hadir sebagai sarana upacara persembahan kepada dewa Dyonesos dan upacara pesta untuk dewa Apollo. Teater  yang berfungsi  untuk  kepentingan  upacara  tidak  membutuhkan  penonton karena penontonnya adalah bagian dari peserta upacara itu sendiri.
Di Indonesia seni teater yang dijadikan sebagai sarana upacara dikenal dengan istilah teater  tradisional.

  1. Teater sebagai Media Ekspresi
Teater merupakan salah satu bentuk seni dengan fokus utama pada laku dan dialog. Berbeda dengan seni musik yang mengedepankan aspek suara dan seni tari yang menekankan pada keselarasan gerak dan irama. Dalam praktiknya, Seniman teater akan mengekspresikan seninya dalam bentuk gerakan tubuh dan ucapan-ucapan.

  1. Teater sebagai Media Hiburan
Dalam perannya sebagai sarana hiburan, sebelum pementasannya sebuah teater itu harus dengan persiapkan dengan usaha yang maksimal.  Sehingga harapannya penonton akan terhibur  dengan pertunjukan yang digelar.

  1. Teater sebagai Media Pendidikan
Teater adalah seni kolektif, dalam artian teater tidak dikerjakan secara individual. Melainkan untuk mewujudkannya diperlukan kerja tim yang harmonis. Jika suatu teater dipentaskan  diharapkan pesan-pesan yang ingin diutarakan penulis dan pemain tersampaikan kepada penonton. Melalui pertunjukan biasanya manusia akan lebih mudah mengerti nilai baik buruk kehidupan dibandingkan hanya membaca lewat sebuah cerita.

Penulisan Naskah

            Penciptaan naskah untuk teater anak-anak mengambil tema yang akrab dengan kehidupan sehari-hari mereka seperti tentang dunia sekolah, cerita binatang, dongeng, dakwah keagamaan, petualangan khas anak dsb. Naskah cerita dibuat tidak terlalu panjang, sehingga ketika dipentaskan hanya memakan waktu sekitar 15-20 menit. Hal ini disesuaikan dengan kemampuan anak dalam berolah akting, menghafal naskah dsb. Dialog-dialog pun dibuat dengan logika berbahasa yang sederhana dan  kalimat yang pendek-pendek agar mudah dihafal dan dihayati.

Pelatihan Seni Peran

            Latihan seni peran mencakup konsentrasi, latihan membaca, penguasaan sarana ekspresi, perwatakan, dan teknik bermain.
  • a. Konsentrasi
            Konsentrasi adalah suatu kesanggupan memusatkan semua kekuatan rohani dan pikiran ke sebuah fokus sasran yang jelas. Pengertian konsentrasi  bukanlah mengosongkan pikiran, tetapi memusatkan pikiran (Rendra, 1985). Kemampuan berkonsentrasi pada  anak-anak tidak tumbuh dengan sendirinya, tetapi harus diasah terus-menerus. Dasar dari latihan konsentrasi adalah penguasaan diri. Pelatihan konsentrasi yang mencakup konsentrasi pendengaran, penglihatan dan penciuman  harus dilakukan secara rileks agar anak-anak tidak mengalami ketegangan.

  • b. Latihan Membaca
            Latihan membaca bertujuan agar anak-anak terampil membaca, menangkap makna bacaan dan mampu mengkomunikasikan makna tersebut kepada orang lain. Dalam hal ini, kefasihan membaca menjadi syarat utama yang harus diakuasai anak-anak. Anak-anak diminta untuk memahami isi bacaan cerita anak-anak, naskah drama anak, dongeng yang menarik dsb. Setelah membaca anak-anak diminta untuk menceritakan kembali alur cerita dan karakter-karakter tokoh.  Latihan membaca pada hakekatnya sebagai latihan dasar bagi anak-anak untuk menyampaikan pikirannya secara jelas. Kepentingan praktis lainnya adalah untuk belajar mengucapkan dialog dalam permainan drama kelak.

  • c. Penguasaan Sarana Ekspresi
            Media sarana ekspresi seorang pemain drama adalah tubuh, suara (vokal) dan sukma (Rendra, 1985). Pengolahan tubuh anak-anak ditekankan pada aspek koordinasi dalam melakukan akting. Koordinasi itu terkait dengan menciptakan gerak sesuai dengan kebutuhan pemanggungan. Anak-anak ditunjukkan tentang sikap tubuh yang baik di atas pentas.

            Penguasaan sarana ekspresi merupakan ketrampilan bermain dalam menggunakan peralatan-peralatan ekspresinya (tubuh, vokal dan sukma) (Rendra, 1985). Salah satu teknik bermain yang bisa ditempuh adalah dengan memberi isi pada pengucapan-pengucapan dialog dengan penekanan makna yang terkandung di dalamnya. Seindah apa pun dialog dalam drama tidak akan hidup apabila diucapkan dengan datar. Pada latihan anak-anak ditunjukkan bahwa cara pengucapan berbeda akan melahirkan makna berbeda.

            Dalam bermain diperlukan pula teknik pengembangan agar pertunjukan tidak monoton. Anak-anak dilatih mengenali suasana yang ada pada setiap adegan seperti suasana penih, gembira kekacauan dsb. Ketika anak-anak telah mengenali suasana dari setiap adegan maka mereka dilatih menciptakan suasana dengan berbagai cara seperti dialog, gerakan,  pemanfaatan ilustrasi musik, efek suara, pencahayaan dsb.

Sarana ekspresi mencakup olah tubuh, olah suara, dan olah rasa.
               1). Olah Tubuh
Latihan olah tubuh adalah kegiatan melatih kesadaran tubuh dan cara mendayagunakan tubuh. Olah tubuh dilakukan dalam tiga tahap, yaitu latihan pemanasan, latihan inti, dan latihan pendinginan.

a). Latihan pemanasan (warm-up), yaitu serial latihan gerakan tubuh untuk meningkatkan sirkulasi dengan cara meregangkan otot atau melemaskan otot-otot. Teknis yang dipakai bisa dengan melakukan gerakan yang ada dalam gerakan senam kelenturan.
b). Latihan inti, yaitu latihan gerakan yang akan dilatihkan atau latihan gerakan sesuai kebutuhan naskah yang akan dipentaskan.
c). Latihan pendinginan adalah latihan dengan gerakan yang dapat menimbulkan efek relaksasi, sehingga membantu menghantarkan pemain kedalam proses konsentrasi

Fungsi utama dari latihan olah tubuh ini adalah menjadikan organ tubuh lentur sehingga leluasa dan luwes jika digerakkan ketika sedang bermain peran.

2). Olah Suara
            Pengolahan suara atau vokal pada anak-anak ditekankan pada penciptaan nada dalam dialog. Penciptaan nada dapat memberi efek tertentu pada dialog sesuai dengan kandungan makna di dalamnya (Harymawan, 1988). Anak-anak diajak memainkan berbagai macam warna suara. Latihan ini akan memberikan ketrampilan berdialog pada anak-anak.

Untuk menjadi pemain teater yang baik, maka dia harus mempunyai dasar suara atau vokal yang baik pula. “Baik” disini dapat diartikan sebagai berikut.
a). Dapat terdengar seluruh penonton sampai posisi paling belakang
b). Jelas secara artikulasi yaitu pengucapan yang tepat
c). Baik secara intonasi yaitu baik dalam lagu dialog
d). Tersampaikan misi atau pesan yang disampaikan melalui dialog
e). Tidak monoton

Dalam latihan olah suara perlu diperhatikan dan dipertimbangkan olah pernafasan sebagai dasar pelatihan. Teknik pernafasan yang digunakan dalam teater adalah pernafasan diafragma. Selanjutnya, setelah mampu melakukan pernafasan diafragma latihan olah suara ditekankan untuk melatih artikulasi, intonasi, dan diksi sehingga kalimat yang diucapkan jelas dan enak didengar.

3)Olah Rasa
            Dalam latihan olah rasa atau sukma penekannya  pada faktor emosi. Anak-anak dibimbing untuk mampu menumbuhkan emosi sesuai dengan tuntutan peran. Apabila anak-anak telah mampu menumbuhkan emosi, maka anak-anak dirangsang untuk mengembangkan emosi sesuai dengan takaran peran. Pada pihak lain, anak-anak juga dilatih untuk mengendalikan emosi, agar kelak bisa mengontrol perkembangan emosi yang berlebih. Ketika anak-anak terlatih mengelola emosi maka kehidupannya akan terkontrol dengan baik. Oleh karena itu, pengelolaan emosi anak mendapat latihan yang besar.

Pemeran atau pemain teater membutuhkan kepekaan rasa, agar dapat menghayati karakter tokoh. Semua emosi tokoh yang dimainkan harus mampu diwujudkan. Oleh karena itu, latihan-latihan yang mendukung kepekaan rasa perlu dilakukan. Terlebih dalam konteks aksi, reaksi, dan responsi. Seorang pemeran tidak hanya mengekspresikan karakter tokoh yang perankan saja, tetapi juga harus memberikan respon terhadap ekspresi tokoh lainnya. Latihan atau kegiatan olah rasa ini dapat dilakukan dengan cara latihan konsentrasi dan imajinasi.

Nilai karakter yang dapat diintegrasikan dalam tahap pelatihan dasar pemeranan adalah;
a). Disiplin dalam hal ketepatan waktu latihan
b). Kerjasama dengan peserta yang lain sewaktu melaksanakan nomor-nomor
     latihan (olah tubuh, suara, dan rasa)
c). Percaya diri dalam berekspresi atau melakukan kegiatan dalam latihan
d). Kerja keras dalam melakukan latihan untuk mencapai tujuan yang diharapkan
e). Komunikatif dalam arti mampu menjalin komunikasi baik dengan rekan  ataupun pelatih  

            Dalam kehidupan sehari-hari setiap anak pasti memiliki watak yang berbeda, sehingga pemahaman terhadap perwatakan akan mengantarkan mereka pada bentuk pergaulan yang lebih baik. John Harrop dan Sabih R. Epstein (1990) mengatakan bahwa latihan perwatakan mencakup aspek fisiologis, psikologis dan sosiologis Dalam latihan fisiologis anak-anak diminta mengidentifikasi aspek fisiologis teman-temannya seperti jenis kelamin, usia, postur, warna kulit, dan semua aspek fisik lainnya. Selanjutnya, anak-anak  diminta mengidentifikasi aspek fisiologis pada cerita anak-anak atau dongeng yang pernah dibaca selama pelatihan.

            Aspek psikologis terkait dengan sikap, motivasi, emosi, keinginan, dorongan dan intelektual (John Harrop dan Sabih R. Epstein, 1990). Latihan aspek ini dimulai dengan sebuah permainan yang disebut “perangakap raksasa”. Melalui permainan ini dihadapkan pada berbagai jebakan. Pada setiap jebakan anak-anak harus dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan sang raksasa seputar kondisi psikologis anak-anak. Dengan latihan ini anak-anak lebih mengenal dirinya. Selanjutnya anak-anak dikenalkan pada perwatakan-perwatakan tokoh cerita, dongeng maupun drama.

Aspek sosilogis terkait dengan ciri-ciri status ekonomi, profesi, agama, kekerabatan dsb (John Harrop dan Sabih R. Epstein, 1990). Pada latihan ini anak-anak diminta mencatat profesi orang tuanya, jenis pakaian yang biasa dipakai seseorang sesuai dengan profesinya. Dari identifikasi pakaian dikembangkan pada peralatan yang dipakai dalam sebuah profesi, sehingga anak-anak berlatih memahami perwatakan secara lebih utuh.

Latihan perwatakan adalah latihan untuk menjadi karakter tokoh yang akan diperankan. Latihan ini dimulai dari tafsir terhadap tokoh yang akan diperankan, observasi karakter, eksplorasi karakter, kolaborasi antarkarakter, dan latihan dengan tata artistik.

  1. Tafsir
Sebelum memainkan sebuah tokoh dalam cerita, seorang pemain harus mengenali tokoh tersebut melalui informasi yang didapatkan dari dalam cerita. Tokoh tersebut harus diketahui wataknya atau sifatnya apakah sombong, jahat, atau baik budi. Tokoh tersebut harus pula diketahui perannya dalam cerita apakah ia antagonis, protagonis, tritagonis atau hanya sekedar tokoh figuran. Tokoh tersebut harus pula diketahui ciri-ciri fisiknya  dan status sosialnya. Semua informasi ini sangat diperlukan sehingga calon pemeran dan menafsirkan dan mempraktikkannya.

b). Observasi Karakter
Setelah mendapatkan informasi mengenai peran yang akan dimainkan seorang pemeran memerlukan observasi atau pengamatan secara nyata dalam kehidupan untuk menemukan model acuan dari orang-orang yang diamati tersebut. Model acuan yang sesuai dengan karakter tokoh yang akan dimainkan berikutnya diamati secara detil sehingga gaya dan tingkah lakunya dapat diadaptasikan ke dalam praktik pemeranan. Alangkah lebih baik jika ciri-ciri karakter orang yang diamati ini dicatat sehingga nantinya akan mudah untuk diaplikasikan.

c). Eksplorasi Karakter
Eksplorasi karakter adalah kegiatan mengembangkan gaya atau perilaku karakter yang akan dimainkan berdasar catatan hasil pengamatan (observasi). Gaya dan perilaku ini disesuaikan dengan tuntutan cerita. Oleh karena itu dalam mengembangkan gaya dan perilaku karakter ini harus tidak boleh lepas dari tuntutan cerita.

d). Kolaborasi Antarkarakter
Kerjasama antarkarakter atau kolaborasi ini sangat diperlukan ketika latihan sudah mengarah pada adegan-adegan dalam cerita di mana karakter yang satu akan bertemu dengan karakter yang lain. Kerjasama antarkarakter ini dimaksudkan agar tidak terjadi kekakuan atau ekspresi karakter yang berjalan sendiri-sendiri sehingga tidak terjadi komuikasi yang alami dan mengakibatkan makna atau maksud adegan menjadi kabur. Tidak jarang, pemain teater itu hanya bermain menurut tafsirnya sendiri tanpa menghiraukan yang lainnya. Oleh karena itu sangat diperlukan latihan aksi-reaki dan response antarkarakter dalam setiap adegan sehingga kerjasama terbentuk dengan baik dan komunikasi peran menjadi alami.

e). Latihan dengan Tata Artistik
Latihan dengan artistik dilakukan ketika semua pemain sudah memahami cerita yang akan dimainkan dan karakter yang akan diperankan. Bentuk latihan ini berupa adegan-adegan yang mana pemain menyesuaikan dirinya dengan aspek tata artistik seperti tata rias dan busana, dekorasi panggung, tata cahaya, dan ilustrasi musik atau salah satu di antaranya.
Nilai karakter yang dapat diintegrasikan dalam tahap pemeranan karakter ini adalah:

  • (1). Disiplin dalam hal ketepatan waktu latihan
  • (2). Kerjasama dengan peserta yang lain sewaktu melaksanakan latihan observasi,  eksplorasi, dan kolaborasi antarkarakter serta ketika latihan dengan tata artistik
  • (3). Percaya diri dalam memainkan karakter yang akan diperankan
  • (4). Kreatif dalam mengembangkan laku karakter
  • (5). Komunikatif dalam arti mampu menampilkan karakter peran sesuai amanat  Cerita.

CONTOH SENI TEATER MODERN

Contoh Teater Modern

  • a. drama
  • b. teater
  • c. sinetron
  • d. film

Ciri ciri Teater Modern

  1. – Panggunga tertata
  2. – Ada pengaturan jalan cerita
  3. – tempat panggung tertutup

Teater Menurut penyampaian ceritanya

  1. Teater Improvisasi (tanpa naskah)
  2. dan teater berdasar naskah

Teater Menurut bentuk pertunjukannya

  1. teater tutur,
  2. teater gerak,
  3. teater boneka,
  4. drama,
  5. drama musikal.

  • Teater Tutur

 adalah Kegiatan yang dapat dikategorikan sebagai Teater Tutur berhubungan dengan aktivitas bercerita secara tunggal (monolog), seperti membaca puisi, deklamasi, mendongeng, dan stand up comedy.
Teater Tutur
Teater Tutur
Contoh Teater Tutur yang bersumber dari nilai-nilai lokal adalah bakabamacapatkentrung, dan P.M. Toh, yang seringkali berhubungan dengan cerita rakyat (folklor).

  • Teater Gerak

Kegiatan teater yang dialognya disampaikan melalui gerak, misalnya pantomim/tablo. Contoh Teater Gerak yang bersumber dari nilai-nilai lokal adalah randaiwayang orang, dan tari kecak. Tema cerita dalam Teater Gerak adalah bagian dari cerita rakyat (folklor).

Teater gerak yang paling populer dan bertahan sampai saat ini  adalah pantomim. Sebagai sebuah pertunjukan yang sunyi karena tidak menggunakan suara, pantomim mencoba mengungkapkan ekspresinya melalui tingkah laku gerak dan mimik para pemainnya. Makna pesan yang hendak direalisasikan dipertunjukkan dalam bentuk gerak.
TEATER GERAK
TEATER GERAK


  • Teater Boneka

       Kegiatan teater yang menggunakan benda/boneka yang merupakan representasi dari suatu karakter atau tokoh dalam cerita, misalnya wayang kulitwayang golekwayang potehicemen, dan wayang suket.
Teater Boneka
Teater Boneka

Contoh teater boneka yang cukup populer ialah pertujukan wayang kulit. Dalam pertunjukan wayang kulit, wayang dimainkan di belakang layar tipis dan sinar lampu menciptakan bayangan wayang di layar. Penonton wanita duduk di depan layar, menonton bayangan tersebut. Penonton pria duduk di belakang layar dan menonton wayang secara langsung.
TEATER WAYANG KULIT
TEATER WAYANG KULIT

Beralih ke luar negeri, pertujukan Boneka Bunraku dari Jepang mampu melakukan banyak sekali gerakan sehingga diperlukan tiga dalang untuk menggerakkannya. Dalang berpakaian hitam dan duduk persis di depan penonton. Dalang utama mengendalikan kepala dan lengan kanan. Para pencerita bernyanyi dan melantunkan kisahnya.

  • Teater Dramatik

       Kegiatan teater yang bersumber dari naskah tertulis, misalnya drama Kwek-Kwek (karya D. Djayakusuma) dan Romeo dan Juliet.
Teater Dramatik
Teater Dramatik


  • Drama Musikal

Drama Musikal
Drama Musikal
       Kegiatan teater yang menggabungkan cerita, gerak, dan musik, dengan dialog yang dinyanyikan. Bentuk drama musikal adalah operet dan kabaret, misalnya operet Laskar PelangiBawang Merah dan Bawang PutihAnde-Ande LumutSi Pitung, dan Sabai nan Aluih. Teater tradisi yang dapat dikategorikan ke dalam Drama Musikal adalah lenongketoprakludrukteater kubruk, dan langendrian.

Cerita dalam teater mengandung unsur konflik atau pertentangan antara dua pihak dan sebagai bentuk pembelajaran karakter, pertentangan selalu diakhiri dengan kemenangan pihak yang baik. Pesan atau moral cerita didapatkan melalui dialog para tokoh dan juga laku cerita yang terjadi. Tokoh cerita dalam teater sering pula disebut sebagai karakter dan secara mendasar atau konvensional karakter dalam teater dibedakan menjadi, protagonis (karakter yang bersifat baik dan membawa pesan kebaikan), antagonis (karakter yang bersifat jahat), dan tritagonis (karakter yang dimunculkan dalam cerita untuk membantu kelancaran jalannya cerita).

Untuk memahami karakter ini pemain bisa mempelajarinya dari dialog dan peran karakter tersebut dalam cerita. Selanjutnya, karakter dapat dilihat dari dimensi fisiknya seperti tinggi tubuh, usia, jenis kelamin dan cirri fisik yang lain. Dari dimensi kejiwaan dapat diketahui watak atau sifat karakter tersebut apakah sombong, baik hati, dermawan atau licik. Dari sisi status sosial dapat diketahui apakah karakter tersebut termasuk orang terpandang, pejabat, pegawai atau masyarakat biasa.

Unsur unsur seni teater

Unsur-unsur yang terdapat dalam seni teater dibedakan menjadi dua, antara lain:
  1. Unsur Internal Teater
  2. Unsur Eksternal Teater

Unsur Internal Teater

Unsur internal merupakan unsur yang menyangkut tentang bagaimana keberlangsungan pementasan suatu  teater. Tanpa unsur internal internal tidak akan ada suatu pementasan teater. Oleh karena itu, unsur internal dikatakan sebagai jantungnya sebuah pementasan teater. Unsur internal, meliputi:
  1. Naskah/Skenario

Naskah/Skenario berisi kisah dengan nama tokoh dan diaolog yang duicapkan.
  1. Pemain/Pemeran/Tokoh

Pemain merupakan orang yang memeragakan tokoh tertentu pada film/sinetron biasa disebut aktris/aktor. Macam-macam peran:a. Peran UtamaPeran Utama Yaitu peran yang menjadi pusat perhatian penonton dalam suatukisahb. Peran PembantuPeran Pembantu Yaitu peran yang tidak menjadi pusat perhatianc. Peran Tambahan /Figuran-Figuran Yaitu peran yang diciptakan untuk memperkuat gambar suasana
  1. Sutradara

Sutradara merupakan orang yang memimpin dan mengatur sebuah teknik pembuatan atau pementasan teater/drama/film/sinetron.
  1. Properti

Properti merupakan sebuah perlengkapan yang diperlukan dalam pementasandrama atau film.Contohnya : kursi, meja, robot, hiasan ruang, dekorasi, danlain-lain
  1. Penataan

Seluruh pekerja yang terkait dengan pendukung pementasan teater, antaralain:
  • Tata Rias
Tata Rias adalah cara mendadndani pemain dalam memerankan tokoh teateragar lebih meyakinkan
  • Tata Busana
Tata Busana adalah pengaturan pakaina pemain agar mendukung keadaan yang menghendaki. Contohnya : pakaian sekolah lain dengan pakaian harian
  • Tata Lampu, Tata Lampu adalah pencahayaan dipanggung
  • Tata Suara, Tata Suara adalah pengaturan pengeras suara

Unsur Eksternal Teater

Unsur eksternal adalah unsur yang mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan hal-hal yang dibutuhkan dalam sebuah pementasan. Unsur eksternal diantaranya, yaitu :
a. Staf produksi
Staf produksi adalah sekelompok tim atau individual yang berkenaan dengan pimpinan produksi sampai semua bagian yang ada di bawahnya. Adapun tugas masing-masing dari mereka adalah sebagai berikut:
  • Produser/ pimpinan produksi
  • Mengurus semua hal tentang produksi;
  • Menetapkan personal (petugas), anggaran biaya, fasilitas, program kerja dan lain sebagainya.

b. Sutradara/ derektor
  • Pembawa sekaligus pengarah jalannya naskah;
  • Koordinator semua pelaksanaan yang menyangkut pementasan;
  • Mencari dan menyiapkan aktor;
  • Menyiapkan make up dan juga men-setting segala sesuatu yang dipegang oleh bagian desainer beserta kru.

c. Stage manager
  • Pemimpin dan penanggung jawab panggung;
  • Membantu sutradara.

d. Desainer
Menyiapkan semua aspek visual yang menyangkut setting tempat atau suasana, properti atau perlengkapan pementasan, kostum, tata lampu dan pencahayaan, serta perlengkapan lain (seperti: audio).